Sejarah Bangsa Israel #1: Sekilas tentang Sejarah Nabi Ibrahim Alaihissalam


Sebelum kita melihat Masjidil Aqsha, ada baiknya kita telusuri sejarah negeri itu. Berbicara tentang Masjidil Aqsa, tak dapat lepas dari membicarakan Bumi Palestina, yang dalam AlQur’an dinamakan ‘ardhal muqaddas’. Berbicara tentang bumi Palestina, kita harus menyusuri sejarah para Nabi. Sebab, menurut catatan sejarah, di negeri inilah kebanyakan para nabi dilahirkan.
Di dalam kitab suci AlQur’an sendiri tidak diterangkan dengan jelas, tahun berapa Ibrahim dilahirkan. Namun menurut catatan yang terdapat di Palestina, bahwa Ibrahim dilahirkan di sana dengna nama Abram atau Abraham. Ibrahimlah orang yang pertama-tama berani menentang orang tuanya.
Perdebatan ini tercantum dalam surat Al-An’am ayat 74, yang berbunyi : Wa idz qala Ibrahimu li abiihi Aazara, tattakhizu ashna man alihatan, inni araka wa qaumaka fi dhalalimubiin.
Artinya : Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar, apakah engkau adakan patung jadi Tuhan? Aku melihatmu dan qaumu dalam kesesatan nyata
Ibrahim as, memang telah ditetapkan oleh Allah SWT menjadi Rasul, mengajarkan agama tauhid ditengah-tengah ramainya pemduduk bumi memuja patung berhala. Bahkan diterangkan dalam kitbs suci al-Qur’an, Ibrahim sampai-sampai dibakar oleh Raja Namrudz, yang ketika itu memerintah.
Oleh karena kesulitan bahan makanan dan susahnya penghidupan di Kanaan, nama lain untuk Palestina, Ibrahim ersama istrinya yang cantik, Siti Sarah, berangkat ke Mesir. Ibrahim mencoba mencari kehidupan di negeri ini sebagai penggembala. Ternyata, ia berhasil. Dari tahun ke tahun, hidupnya semakin baik. Ibrahim memiliki banyak ternak peliharaan.
Pada suatu ketika, Raja Mesir yang ketika itu memerintah, terpukau melihat seorang wanita cantik. Ternyata wanita tersebut ada bersama Ibrahim. Sang Raja memanggil Ibrahim dan menanyakan siapa wanita cantik itu.
Ibrahim mendengar pertanyaan ini, benar-benar gelisah. Ia khwatir akan terjadi hukuman yang semena-mena dari Raja yang berkuasa itu. Ibrahim tidak berani menyebut wanita cantik itu adalah Sarah, istrinya. Tetapi ia mengatakan adiknya. Ia sadar, sudah bebuat kesalahan karena berbohong.
Namu, betapa marahnya Raja Mesir ketika ia tahu Ibrahim sudah berbohong. Akhirnya, ia tahu bahwa wanita cantik itu adalah istri Ibrahim sendiri. Kemarahan yang memuncak itu memaksanya untuk mengusir Ibrahim dari Mesir. Ibrahim berangkat dengan membawa semua hewan ternaknya, kembali ke Kanaan atau bumi Palestina. Ia merasa, karena di sini tempat lahirnya, di sini ia dibesarkan, maka di sinilah ia bertahan hidup sampai akhir hayatnya.
Dalam usia yang semakin lanjut, Ibrahim belum juga memperoleh tanda-tanda akan mempunyai putra. Padahal ia ingin ada generasi yang akan melanjutkan misi kerasulannya itu. Kerisauan ini terbaca oleh Siti Sarah. Dalam cerita selanjutnya kita ketahui, bahwa Siti Sarah mengusulkan agar Ibrahim menikahi hamba sahayanya yang bernama Siti Hajar.
Dengan izin Allah SWT, Siti Hajar ternyata mulai mengandung, meski Ibrahim dalam usia lanjut. Namun peristiwa itulah yang kemudian menjadi catatan penting perkembangan agama di muka bumi. Siti Sarah tia-tiba tidak senang melihat kehamilan madunya. Ia meminta supaya Siti Hajar dibawa pergi dari Kanaan.
Sesuai dengan wahyu Allah kepada Ibrahim, ia membawa Siti Hajar pergi dari Kanaan. Melalui gurun pasir dan bukit batu-batuan, akhirnya mereka terdampar di gurun Saudi Arabia. Di sinilah Siti Hajar melahirkan puteranya, yang diberi nama Ismail.
 Namun Ibrahim tak dapat menungguinya di sana. Siti Hajar bersama anaknya ditinggal berdua. Ibrahim hanya berdo’a kepada Allah SWT, supaya negeri ini menjadi negeri yang subur, aman dan sentosa. Sedangkan penduduknya akan menjadi umat yang shaleh, menegakkan shalat dan membacakan ayat-ayat Allah.
Dalam sejarah kemudian kita ketahui, perjalanan Ismail beserta ibunya dijadikan syari’at perjalanan Ibadah Haji. Berlari-lari antara Bukit Shafa dan Marwa, seperti pengalaman Siti Hajar, melempar batu seperti pengalaman Ismail dan Ibrahim ketika membunuh Iblis, bermalam di Mina, menyembelih qurban, bahkan juga munculnya air zam-zam, dan sejumlah peristiwa lainnya.
Ismail kemudian menikah dengan penduduk Mekah dari suku Jurhum yang berasal dari Yaman. Di kota ini ia berketurunan, yang kemudian disebut Banu Ismail atau Adnaniyun. Sebagaimana diketahui, Ismail membangun Ka’bah bersama ayahnya. Karena itu Banu Ismail menjadi pemimpin agama di Mekah. Bahkan sampai kepada Qushai, yang juga keturunan banu Ismail, yang kemudian menurunkan beberapa generasi lagi sampai akhirnya kepada Muhammad yang diangkat oleh Allah SWT menjadi RasulNYA.
Dikutip dari : Masjidil Aqsha Diambang Pintu Perang Teluk: Luqman Hakim Gayo
Previous
Next Post »
Thanks for your comment